POHUWATO – Malam ke-27 Ramadan identik dengan tradisi pemasangan lampu atau tumbilotohe yang dilaksanakan serentak pada malam ke-27 Ramadan, setelah memasuki puasa hari ke-26.
Tradisi tersebut berlangsung meriah di Rumah Jabatan Bupati Pohuwato, Senin (16/03/2026).
Tumbilotohe merupakan tradisi turun-temurun yang diwariskan oleh masyarakat Gorontalo dan hingga kini masih terus dipertahankan. Gorontal
Tradisi ini menjadi momen sakral yang selalu dinantikan masyarakat pada penghujung bulan suci Ramadan.
Berdasarkan sejarah, tradisi tumbilotohe telah ada sejak abad ke-15 dan terus dilestarikan sampai sekarang.
Cahaya lampu-lampu yang dipasang melambangkan kebersihan hati serta menjadi simbol penyambutan malam-malam penuh berkah di penghujung Ramadan.
Pada masa lampau, penerangan masih sangat terbatas. Karena itu, masyarakat membuat lampu sederhana dari bahan seludang atau wamuta dalam bahasa Gorontalo.
Bahan tersebut dihaluskan, diruncingkan, kemudian dibakar untuk menghasilkan cahaya yang menerangi lingkungan sekitar.
Prosesi pemasangan lampu di Rumah Jabatan Bupati Pohuwato dilakukan langsung oleh Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga, bersama istri Selfi Mbuinga Monoarfa, usai salat Magrib.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekda Pohuwato, Iskandar Datau, Kadhi Pohuwato, Syaiful Sabu, Bate Pohuwato, Asmad N. Tuna, Hakimu Pohuwato, Ustaz Wisno Pakaya, Wuu Pohuwato, Raman Pakilie, Kabid Kebudayaan, Iswan Gau, serta sejumlah pemangku adat lainnya.
Dalam kesempatan itu, Bupati Saipul A. Mbuinga menyampaikan terima kasih kepada para pemangku adat yang setiap tahun hadir mendampingi serta ikut melakukan pemasangan lampu di Rumah Jabatan Bupati.
“Tradisi tumbilotohe bukan hanya sekadar pemasangan lampu, tetapi juga memiliki nilai religius dan budaya yang mendalam. Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang harus kita jaga dan lestarikan terus menerus,” ujar Saipul.
Menurutnya, selain memperindah suasana malam Ramadan, tumbilotohe juga menjadi simbol penerangan hati dalam menyambut kemenangan di Hari Raya Idulfitri.
“Semoga kita semua bisa merayakan kemenangan yang tinggal 4 atau 5 hari ke depan. Kita tetap menunggu keputusan pemerintah terkait penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah,”tambahnya.
Bupati juga berharap tradisi tumbilotohe yang terus dilestarikan ini dapat menjaga nilai-nilai budaya yang telah diwariskan sejak ratusan tahun lalu.
Selain itu, tradisi ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata religi dan budaya di wilayah Gorontalo, khususnya di Kabupaten Pohuwato. (*)













