GORONTALO — Upaya transformasi sektor kesehatan menuju sistem yang berkelanjutan dan rendah emisi karbon terus diperkuat. Salah satunya melalui kegiatan Pelatihan Penguatan Kapasitas Tenaga Kesehatan dan Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam Implementasi Transisi Net Zero di Fasilitas Kesehatan yang resmi digelar pada 2–3 Juni 2026 di Hotel Aston Gorontalo.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh PAIR Sulawesi bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin, serta didukung pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Republik Indonesia, serta Pemerintah Australia.
Pelatihan ini merupakan bagian dari riset PAIR Sulawesi Net Zero (NZ) 2.4 bertajuk Financial Analysis, Blended Financing, and Procurement for Transitioning Net Zero in Healthcare. Riset ini bertujuan untuk mendukung transisi Puskesmas dan Rumah Sakit di Manado dan Gorontalo, Indonesia, menuju operasi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan dengan berfokus pada tiga area utama: Analisis Biaya-Manfaat (CBA), strategi pengadaan hijau, dan adopsi teknologi pro-lingkungan.

Tim peneliti PAIR Sulawesi NZ 2.4 sendiri merupakan kolaborasi lintas perguruan tinggi, yakni Universitas Hasanuddin, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Ichsan Gorontalo, serta The University of Melbourne, Australia.
Kegiatan pelatihan dipimpin oleh Prof. Sri Astuti Thamrin selaku Koordinator Peneliti PAIR Sulawesi NZ 2.4, bersama tim peneliti dan para narasumber yang memiliki keahlian di bidang kesehatan lingkungan, pembiayaan berkelanjutan, pengadaan barang dan jasa pemerintah, serta kebijakan transisi energi.
Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan berbagai instansi strategis di Provinsi Gorontalo, antara lain Puskesmas Biluhu, Rumah Sakit Aloei Saboe (RSAS) Kota Gorontalo, Dinas Kesehatan Provinsi dan Kota Gorontalo, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi dan Kabupaten Gorontalo, Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD), serta berbagai unit pengelola pengadaan barang dan jasa di tingkat provinsi dan kabupaten.
Dalam sambutannya, Prof. Sri Astuti Thamrin menekankan bahwa sektor kesehatan memiliki peran strategis dalam mendukung target nasional menuju Net Zero Emission (NZE). Menurutnya, fasilitas kesehatan tidak hanya berfungsi sebagai penyedia layanan medis, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk meminimalkan dampak lingkungan.
“Fasilitas kesehatan harus mulai bertransformasi melalui pengelolaan energi yang efisien, pengurangan emisi, pengelolaan limbah yang berkelanjutan, serta penerapan pengadaan hijau. Transisi ini membutuhkan sinergi berbagai pihak,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelatihan ini diharapkan mampu memberikan pemahaman komprehensif kepada peserta terkait strategi implementasi, mekanisme pembiayaan, serta tata kelola yang mendukung pencapaian target Net Zero di sektor kesehatan.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta mendapatkan berbagai materi penting, mulai dari konsep dasar transisi Net Zero di fasilitas kesehatan, analisis pembiayaan dan investasi hijau, penerapan blended financing, hingga praktik green procurement. Selain itu, peserta juga dilatih mengidentifikasi sumber emisi di fasilitas kesehatan dan menyusun rencana aksi implementasi di tingkat institusi.
Tidak hanya sebagai forum pembelajaran, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog lintas sektor untuk mengidentifikasi peluang dan tantangan implementasi kebijakan Net Zero di daerah. Kolaborasi antara sektor kesehatan, perencanaan pembangunan, pengelolaan keuangan daerah, serta pengadaan barang dan jasa diharapkan mampu melahirkan inovasi yang mempercepat transformasi menuju sistem kesehatan yang lebih efisien, tangguh, dan berkelanjutan.
Penelitian PAIR Sulawesi NZ 2.4 sendiri berfokus pada pengembangan model pembiayaan, mekanisme pengadaan, serta strategi investasi yang efektif dalam mendukung transisi Net Zero di sektor kesehatan Indonesia. Hasil dari pelatihan dan masukan peserta akan menjadi bagian penting dalam penyusunan rekomendasi kebijakan di tingkat daerah maupun nasional.
Melalui kegiatan ini, Provinsi Gorontalo diharapkan dapat menjadi salah satu pelopor dalam implementasi praktik terbaik fasilitas kesehatan rendah karbon. Langkah ini sekaligus menjadi kontribusi nyata dalam mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan serta agenda Net Zero Emission Indonesia pada tahun 2060 atau lebih cepat.













