Advetorial

Felni Ruiba, Perempuan Lokal yang Jadi Operator Excavator di PGM

POHUWATO – Felni Ruiba, perempuan asli Bumi Panua, mencatatkan sejarah baru di sektor pertambangan daerah. Ia menjadi operator excavator perempuan pertama di (PGM), sekaligus membuktikan bahwa sumber daya manusia lokal mampu bersaing dalam industri pertambangan profesional.

Felni bergabung dengan PGM sejak Juni 2024. Kehadirannya tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga simbol transformasi nyata masyarakat lokal dari aktivitas pertambangan non-formal menuju industri yang mengedepankan standar keselamatan kerja.

Tumbuh di lingkungan keluarga penambang, Felni merupakan adik dari tokoh pertambangan emas tanpa izin (PETI) Pohuwato.

Ketertarikannya terhadap alat berat bermula dari rasa penasaran saat menyaksikan langsung cara kerja excavator di lapangan.

Dari rasa ingin tahu itu, ia terus belajar hingga akhirnya dipercaya mengoperasikan alat berat di perusahaan tambang berizin.

“Saya awalnya hanya penasaran melihat excavator bekerja. Tapi seiring waktu, saya belajar dan berusaha hingga akhirnya diberi kesempatan seperti sekarang,” ungkap Felni.

Sebelum bergabung dengan PGM, Felni sempat mengoperasikan excavator di area PETI pada awal 2024. Namun, ia kemudian memilih beralih ke sektor formal yang dinilai lebih menjamin keselamatan dan masa depan karier.

Di lingkungan kerja PGM, Felni harus menjalankan berbagai prosedur ketat, mulai dari Toolbox Meeting (TBM) setiap pagi, Pemeriksaan Harian (P2H) sebelum operasional, hingga rapat Occupational Health and Safety (OHS) bulanan.

Semua itu diterapkan untuk meminimalkan risiko kerja di area tambang yang memiliki tingkat bahaya tinggi.

“Bekerja di perusahaan berizin memberikan perspektif baru bagi saya, terutama soal pentingnya keselamatan kerja. Kami juga diberikan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan kedisiplinan,” jelasnya.

Ia berharap pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan dapat mempercepat realisasi Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) serta mempermudah penerbitan Izin Pertambangan Rakyat (IPR).

Menurutnya, banyak pelaku PETI yang sebenarnya memiliki keterampilan, namun belum memiliki akses untuk bekerja secara legal dan aman.

“Saya berharap ada solusi nyata melalui WPR dan IPR, agar teman-teman penambang bisa bekerja secara legal dengan standar keselamatan yang lebih baik,” tegasnya.

Sebagai operator perempuan pertama di PGM, Felni juga mengajak generasi muda Pohuwato untuk terus meningkatkan kompetensi dan tidak mudah terpengaruh hal negatif.

“Siapkan diri dan tingkatkan skill. Buktikan bahwa generasi muda lokal bisa memberi kontribusi nyata bagi daerah. Investasi seperti PGM ini juga membawa manfaat bagi masyarakat melalui pajak, royalti, dan pembangunan daerah,” pungkasnya.

Kisah Felni Ruiba menjadi bukti bahwa dengan kerja keras dan keberanian untuk berubah, putra-putri daerah mampu menjadi pelaku utama pembangunan di tanahnya sendiri. (*)

Related Posts