Pohuwato

Front Pemuda Progresif Pohuwato Dibentuk, Hak dan Persoalan Buruh Jadi Fokus

POHUWATO – Front Pemuda Progresif Pohuwato (FP3) resmi terbentuk sebagai wadah pemuda yang menjalankan kerja pengorganisasian masyarakat di Kabupaten Pohuwato, dengan sektor pekerja menjadi fokus awal.

FP3 merupakan sel kerja Komite Politik Nasional Gorontalo yang berhubungan langsung dengan Komite Politik Nasional Pusat dan Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) Pusat.

Dalam pembentukannya, Nazir Dunggio terpilih secara aklamasi sebagai Ketua FP3. Posisi Wakil Ketua dipercayakan kepada Fadel Imawan Hamzah, sedangkan Nazilla ditetapkan sebagai Sekretaris.

Kerja awal FP3 diarahkan pada pengorganisasian pekerja di sejumlah perusahaan di Pohuwato. Proses tersebut mencakup pemetaan persoalan ketenagakerjaan, membangun komunikasi dengan pekerja hingga mendorong pembentukan serikat pekerja atau PUK.

Persoalan yang menjadi perhatian meliputi hak upah, kepastian hubungan kerja, PHK, outsourcing, jaminan sosial, keselamatan dan kesehatan kerja, serta perlindungan terhadap pekerja perempuan.

Termasuk persoalan kekerasan, diskriminasi dan perlakuan tidak layak di lingkungan kerja. Berbagai persoalan tersebut akan menjadi bagian dari pembahasan dalam proses pengorganisasian pekerja.

Keberadaan serikat pekerja memiliki dasar hukum melalui Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh. Pasal 5 ayat (1) mengatur hak pekerja atau buruh untuk membentuk dan menjadi anggota serikat pekerja.

Sementara Pasal 5 ayat (2) mengatur serikat pekerja atau serikat buruh dibentuk oleh sekurang-kurangnya 10 orang pekerja/buruh.

Bagi FP3, pengorganisasian menjadi tahapan awal untuk membangun kesadaran dan kekuatan bersama sebelum pembentukan organisasi pekerja di tingkat perusahaan.

FP3 Bidik Lima Perusahaan, Persoalan Buruh Mulai Dipetakan

Ketua FP3 Pohuwato, Nazir Dunggio, mengatakan masih banyak persoalan di Pohuwato yang perlu diusut dan menjadi perhatian kelompok progresif.

“Banyak masalah yang harus diusut oleh kelompok progresif di Pohuwato yang secara ideologis berani melawan,” kata Nazir.

Untuk tahap awal, FP3 menyasar lima perusahaan besar yang disebut belum memiliki serikat pekerja. Pengorganisasian akan dimulai dengan membangun komunikasi bersama pekerja dan memetakan persoalan yang terjadi di masing-masing lingkungan kerja.

“Untuk saat ini, fokus kami adalah membangun kekuatan buruh di setiap perusahaan, terutama lima perusahaan besar di Pohuwato yang belum mempunyai serikat pekerja,” ujar Nazir.

Setelah kekuatan pekerja mulai terbentuk, FP3 akan mendorong pembentukan serikat pekerja atau PUK sebagai wadah bersama di tingkat perusahaan.

“Tujuan terdekat kami adalah membangun kekuatan buruh. Setelah itu, kami akan mendorong terbentuknya serikat pekerja atau PUK di setiap perusahaan,” katanya.

Nazir mengatakan kerja FP3 tidak hanya terbatas pada pembentukan organisasi pekerja. Pengorganisasian juga diarahkan agar pekerja memahami hak-haknya dan mampu membicarakan persoalan yang dihadapi secara bersama.

“Selain membangun serikat pekerja, tidak menutup kemungkinan kami akan membangun kekuatan di sektor rakyat kecil lainnya. Tetapi untuk saat ini kami fokus terlebih dahulu pada sektor buruh,” kata Nazir.

Persoalan Daerah Akan Dikonsolidasikan hingga Pusat

FP3 memiliki jalur koordinasi yang terhubung dengan struktur organisasi di tingkat daerah hingga pusat. Setiap kerja organisasi di Pohuwato berada dalam koordinasi Komite Politik Nasional Gorontalo yang berhubungan langsung dengan Komite Politik Nasional Pusat dan KPBI Pusat.

Dengan struktur tersebut, persoalan yang ditemukan dalam proses pengorganisasian di lapangan dapat dikonsolidasikan melalui jenjang organisasi. Persoalan pekerja di daerah tidak berhenti pada tingkat lokal, tetapi dapat dibawa melalui koordinasi organisasi hingga tingkat pusat.

Koordinasi tersebut juga menjadi bagian dari disiplin organisasi FP3. Setiap kerja, sikap dan langkah organisasi dijalankan dalam aturan serta mekanisme yang telah ditetapkan dalam struktur organisasi.

Jalur koordinasi tersebut memungkinkan persoalan yang dihadapi pekerja di Pohuwato untuk mendapatkan perhatian pada tingkatan organisasi yang lebih luas. FP3 juga akan menjaga komunikasi dan konsolidasi antara struktur di daerah dengan jaringan organisasi di tingkat pusat.

Fadel: Gerakan Progresif Harus Dipraktikkan di Tanah Kelahiran

Wakil Ketua FP3 Pohuwato, Fadel Imawan Hamzah, mengatakan pembentukan FP3 tidak terlepas dari pengalaman sejumlah pemuda yang sebelumnya aktif dalam organisasi mahasiswa progresif.

Di antaranya berasal dari Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) atau yang saat ini dikenal sebagai Liga Mahasiswa Indonesia Demokratik (LMID).

“Sudah seharusnya kelompok progresif lahir di Pohuwato. Secara teori, kelompok progresif paling berpihak kepada rakyat kecil,” ujar Fadel.

Fadel mengatakan pengalaman berorganisasi semasa mahasiswa tidak cukup berhenti sebagai teori. Pengetahuan tersebut perlu diterapkan kembali di daerah asal melalui kerja organisasi dan pengorganisasian masyarakat.

“Apa yang kami pelajari semasa masih di LMND tidak cukup hanya menjadi teori. Itu wajib kami praktikkan di kampung dan tanah kelahiran sendiri,” kata Fadel.

Dengan terbentuknya FP3, kerja awal organisasi tersebut akan diarahkan pada pengorganisasian pekerja dan pembentukan serikat pekerja di sejumlah perusahaan.

Selain sektor buruh, FP3 tetap membuka ruang untuk melakukan pengorganisasian pada sektor rakyat kecil lainnya sesuai persoalan yang ditemukan di lapangan. (*)

Related Posts