Penulis: Indriyani Dunda (Ketua Fraksi Nasdem DPRD Provinsi Gorontalo)
OPINI – Hari Kartini bukan sekadar peringatan seremonial tahunan, melainkan momentum reflektif untuk menakar sejauh mana perjuangan emansipasi perempuan benar-benar hidup dalam praktik sosial kita hari ini. Semangat yang diwariskan oleh R.A. Kartini seharusnya terus menjadi energi penggerak dalam membangun kesetaraan, bukan hanya dalam wacana, tetapi dalam kebijakan dan tindakan nyata.
Sebagai Ketua Fraksi NasDem, saya memandang bahwa perjuangan Kartini belum selesai. Kita memang telah melihat kemajuan yang signifikan—perempuan kini hadir di berbagai sektor strategis, mulai dari politik, pendidikan, hingga ekonomi. Namun, tantangan struktural dan kultural masih menjadi penghambat bagi banyak perempuan untuk berkembang secara optimal.
Di ruang politik, misalnya, keterwakilan perempuan masih jauh dari ideal. Meski regulasi telah membuka ruang afirmasi, realitas di lapangan menunjukkan bahwa perempuan sering kali masih diposisikan sebagai pelengkap, bukan sebagai pengambil keputusan utama. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama untuk memastikan politik yang lebih inklusif dan adil.
Kartini mengajarkan bahwa pendidikan adalah kunci utama pembebasan. Oleh karena itu, kita harus memastikan bahwa akses pendidikan bagi perempuan, khususnya di daerah-daerah terpencil, benar-benar merata dan berkualitas. Tidak boleh ada lagi anak perempuan yang putus sekolah karena alasan ekonomi, budaya, atau diskriminasi.
Selain itu, isu kekerasan terhadap perempuan juga masih menjadi persoalan serius. Data menunjukkan bahwa kasus kekerasan, baik dalam rumah tangga maupun di ruang publik, masih tinggi. Negara harus hadir lebih tegas dalam memberikan perlindungan, serta memastikan penegakan hukum yang berpihak pada korban.
Di sektor ekonomi, perempuan telah membuktikan diri sebagai tulang punggung keluarga dan penggerak UMKM. Namun, akses terhadap permodalan, pelatihan, dan pasar masih belum sepenuhnya berpihak kepada mereka. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih ramah terhadap perempuan.
Sebagai bagian dari Fraksi NasDem, kami berkomitmen untuk terus mendorong kebijakan yang berpihak pada perempuan. Baik melalui legislasi, pengawasan, maupun penganggaran, kami ingin memastikan bahwa semangat kesetaraan benar-benar terimplementasi dalam setiap program pembangunan.
Hari Kartini juga harus dimaknai sebagai ajakan untuk menghapus stereotip gender yang masih mengakar di masyarakat. Perempuan tidak boleh lagi dibatasi oleh stigma atau peran-peran sempit yang menghambat potensi mereka. Setiap perempuan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri.
Lebih jauh, kita perlu membangun kesadaran kolektif bahwa perjuangan kesetaraan bukan hanya tugas perempuan, tetapi juga laki-laki. Kolaborasi dan solidaritas menjadi kunci dalam menciptakan masyarakat yang adil dan setara.
Kartini adalah simbol keberanian untuk berpikir melampaui zamannya. Semangat itu harus kita warisi dengan terus mendorong inovasi, keberanian, dan kepemimpinan perempuan di berbagai lini kehidupan.
Di era digital saat ini, perempuan memiliki peluang besar untuk berkembang. Namun, tantangan baru seperti kekerasan berbasis digital juga muncul. Oleh karena itu, literasi digital dan perlindungan terhadap perempuan di ruang siber menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.
Saya percaya bahwa perempuan Indonesia memiliki kapasitas luar biasa untuk menjadi agen perubahan. Yang dibutuhkan adalah ruang, kesempatan, dan dukungan yang setara. Ketika perempuan diberdayakan, maka bangsa ini akan melangkah lebih maju.
Hari Kartini harus menjadi pengingat bahwa perjuangan belum usai. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan cita-cita Kartini, mewujudkan Indonesia yang adil, setara, dan berkeadaban, di mana setiap perempuan dapat hidup dengan martabat dan kebebasan penuh.












